Minggu, 01 April 2012

intisari manajemen dari alam

NATURE BASED MANAGEMENT 1


MANAJEMEN UMUM (SOFTKILL)
Ringkasan dari Buku Nature Based Management
                                            KELAS      : 1DB09
Disusun Oleh :
ABDUL FALIH                                                         ( 39111169 )
FELIXS ARGA MAHADIKA                                   ( 32111805 )
HARSENO AJI                                                         ( 33111248 )    
TRI RAGIL MUJIYANTO                                        ( 37111171 )
KUKUH WINDU PRANOMO                                ( 34111032 )
KATA PENGANTAR
Puji serta syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena hanya dengan ridho dan rahmatnya tugas manajemen umum (Softkill)ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Penulisan rangkuman dari buku NATURE BASED MANGEMNTini dilakukan dalam rangka memenuhi tugas dalam mata kuliah Manajemen Umum ( Softkill ) universitas gunadarma. Penulis sangat menyadari bahwa, tanpa bantuan dari beberapa pihak, sangatlah sulit untuk menyelesaikan makalah sistem informasi ini dengan baik dan tepat waktu.
untuk itu penulis meminta yang sebesar-besarnya  apabila ada kesalahan maupun kekurangan didalam penulisan rangkuman ini. Penulis juga mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca, agar kedepanya pembuatan makalah sistem informasi ini dapat terus ditingkatkan dan dapat menjadi lebih baik lagi.
Jakarta,  12 Januari 2012
Penulis
BAB I
ANGIN
Tak Terbak, Prestasi Pun Melonjak
Angin adalah sebuaih elemen alam yang tidak terdefenisi karakternya jarena dia sejatinya tidak memiliki watak yang ajeg. Atau, kalau kita masih mau mencoba mengklasifisikasikan itu sendirilah yang menjadi sifatnya. Coba renungkan saja, angin dapat berhembus semilir menyejukan hawa dan mendinginkan hati, tapi  bisa mndadak berubah kencang membuyarkan benda-benda. Angin pun dapat menggerakan kincir air, jugaj dapat menjadi sumber energi pembangkit listrik.
            Karena itu, sifat tak terdugalah yang menjadi kelebihan angin. Makanya, orang yan mood-nya berganti-ganti sering disebut “angin-anginan”. Angin bagaikan suhu dewa mabuk yang jurus-jurusnya liar penuh kejutan dan mengagetkan lawan. Dalam teori pemasaran, inilah yang disebutkan oleh Thomas Bonoma, artinya jurus-jurus pemasaran pendobrak dan radikal yang memang penuh kelokan
            Sepengamatan Bonoma, kesuksesan tergantung pada keberadaan marketing subvervive di dalam perusahaan, yaitu mereka yang membongkar stuktur organisasi untuk menerapkan praktik-praktik pemasaran baru. Dengan berimprovisasi liar berdasarkan keahlian tradisional-interaksi, pengalokasian sumber daya, pemantauan, dan pengelolaan-mereka kerap mengambil resiko untuk mrmperkenalkan praktik-praktik tak lazim. Makanya pengelolaan kejutan-kejutan dengan baiklah yang sebenarnya akan menghasilkan letupan-letupan prestasi yang tak berkesudahan. Bagi Bonama, ada dua resep utama pengelolaan untuk melanggengkan praktik marketing subversies, yaitu mendorong rasa tidak puas dan mencari role models atau anutan
Tengok saja Richarad Branson, sang CEO nan eksentrik dari virgin group. Sangking eksentriknya, Branson yang bergaya ugal-ugalan ini bahkan dijuluki Rebel Billionarie karena pemikirannya yang tak terduga, liar, penuh tikungan, tapi dahsyat bukan main . salah satu contoh keliaranya adalah ketika ia mendobrak pakaem bahwa suatu Brand kuat dalam satu produk tertrntu seyogyanya tidak melakukan brand extension dengan mengusung nama brand yang sama.
Faktor apa sebenarnya yang membuat elemen angin yang dikerahkan Branson ini sukses? Kuncinya adalah konsisten dengan sifat angin itu.
GURUN PASIR
Zona Keseimbangan Penggodok Perubahan
Pesona gurun pasir berasal dari berkumpulnya elemen-elemen yang saling bertentangan dalam diri gurun pasir. Sebagai contoh, pada siang hari gurun pasir terik luar biasa, sementara di malam hari dingin penusuk tulang yang menggantikan . kontras lain, gurun pasir identi dengan kegersangan tanpa air di satu sisi, padahal di sisi lain ia menyajkan pula tanaman kaktus yang menyimpan cairan berlimpah-ruah.
Dalam bahasa kerenya gurun pasir adalah semacam tempat yin dan yang berkumpul dimana terdapat elemen-elemen yang saling menetralkan sehingga terdapat keseimbangan atau titik nol. Dalam istilah manajemen, inilah yang disebut William Bridge dan Susan Mitchell dalam “Memimpin Transisi: Model Baru untuk Perubahan” sebagai zona netral, yang memang mereka sinonimkan dengan gurun pasir. Menurut Bridge dan Mitchell, fase transisi ala gurun adaah zona netral tempat tiadanya kepastian dan berkumpulnya kebingungan yang sangat menguras energi. Zona netral tidak nyaman sehingga orang ingin keluar dari situ. Sebagian orang mencoba maju dengan tergesa-gesa ke dalam situasi baru, sementara yang lain berusaha mundur ke masa lalu. Bagaimana pun juga, waktu di zona netral ini tidak sia-sia karena di situlah kreativitas dan energi transisi ditemukan dan tranformasi yang sesungguhya terjadi.
Untuk melalui zona netral gurun pasir ini, terdapat tujuh langkah panduan:
Ø  Memperbesar tulah, kutukan, atau tekanan
Ø  Menandai akhir
Ø  Menghadapi desas-desus
Ø  Memberi rakyat akses kepada pembuat keputusan
Ø  Memanfaatkan peluang kretif yng disediakan zona netral
Ø  Menolak desakan untuk maju dengan tergesa-gesa
Ø  Memehami bahwa kepemimpinan zona netral adalah istimewa.
API
Motivasi Pemantik Aksi
            Berbicara soal motivasi yang diumpamakan sebagai api yang perlu dipantik, Theresa Amabile dalam artikel klasiknya, “How to Kill Creativity” mengulik tentang ini dalam teorinya yang ia beri nama Intrinsic Motivation Principle of Creativity. Dalam teori ini, Amabile mengemukakan bahwa kreativitas terdiri dari tiga unsur, yaitu berfikir secara imajnatif, keahlian dan motivasi.
            Amabile menjekaskan bahwa pemikiran kreatif  merujuk pada  cara orang menghampiri masalah dan mencetuskan solusi, yakni kemeampuan menyatukn ide-ide yang ada kedalam kombinasi baru. Pemikiran pada kepribadian, pola pikir, dan pola kerja seseorang. Keahlian adalah segala sesuatu yang anda ketahui dan bisa anda lakukan dalam cakupan wilayah kerja anda. Sementara itu, apbila kedua elemen kretivitas diatas hanyalah sumber daya internal yang dimiliki seseorang, maka motivasi merupakan elemen terakhir yang sebenarnya menjadi penentu apakah orang itu akan bertindak ataukah hanya berpangku tangan. Oleh sebab itu, bisa saja kejadian seseorang memiliki segudang pemikiran kreatif dan keahlian untuk menerapkannya dalam tindakan tapi tidak bisa mewujudkannya karena ia kekurangan aau tidak memiliki motivasi sama sekali.
            Amabile melanjutkan motivasi terbagi menjadi ekstrinsik dan intrinsik, yang mana hal terakhirlah yang dianggap lebih penting dalam kretivitas. Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang berasal dari luar diri seseorang, misalnya, taakut akan hukum atau ingin mendapatkan penghargaan. Akan tetapi, motivasi ini tidak berhasil jika karyawan atau bawahan tidak merasakan gairah dan minat besar pada pekerjaan mereka. Oleh sebab itu, gairah dan minat-hasrat internal seseorang untuk melakukan sesuatu-merupakan inti dari motivasi intrinsik. Keduanya harus benar-benar diutamakan dalam kegiatan kreatif.
            Membahas ulang penelitian Amabile dalam bahasa yang lebih sederhana, sesorang akan lebih kreatif tatkala ia merasa termotivasi oleh minat, kepuasan, dan tantangan dari kerja itu sendiri dari pada oleh tekanan eksternal. Karenanya, Anda ingin berinovasi harus terbakar oleh api minat dan gairah yang bear terhadap bidang yang ingin anda geluti. Dengan begitu, kemungkinan annda menelurkan varian pemasaran, proses, atau pelayanan. Jadi, kata kunci bagi motivasi adalah bara gairah dan hasrat.
GUNUNG
Pengantar Hati, Pencetus Revolusi
Apa yang patut diikuti dari gunung ? Kevin Roberts dalam bukunya yang berjudul Lovemarks:the future Beyond Brands, memberikan jawabanya. Dalam bukunya itu Roberts Mengemukakan bahwa untuk bisa memahami pelanggan, perusahaan atau pemasar harus rela “Naik Gunung” (climb the mountain). Maksudnya, kalau kita hanya melihat bisnis kita dari kegagalan bagi orang yang memiliki motivasi interinsik tidak membuatnya menjadi berputus asa. Kegagalan justru laksana vitamin yang akan membuatnya menjadi lebih kuat, lebih bertenaga dan lebih termotivasi lagi untuk meraih kesuksesan.
Perlunya Big Picture ini penting terutama jika terkait dengan sifat gunung berjenis lain, yaitu gunung aktif. Jenis gunung semacam ini mengundang rasa kagum sekaligus cemas bagi masyarakat, apalagi komunitas setempat. Kalau gunung merapi meletus hebat, niscaya akan terjadi dapak yang cukup luas . Namun dampak luas menggetarkan ini jangan sekedar dipersepsikan negative. Sebenarnya, dalam contoh kasus, letusan gunung berapi malah mengobarkan perubahan alias mencetuskan revolusi. Maka dari itu, kembali menjejak dunia manajemen, gunung dalam bahasa garangnya adalah perlambangan revolusi. Apabila dikawinkan dengan pendapat Roberts akan perlunya perusahaan mendapatkan Big Picture, kita bisa mengatakan bahwa Perusahaan dan institusi yang ingin mencetuskan revolusi ala gunung dalam kinerja haruslah menetapkan visi besar terlebih dahulu.
Pelajaran Manajemen Dari Gunung
Ø  Gunung mengajarkan pentingnya mendapatkan gambaran umum komprehensif atau medan umum persaingan pasar (Big picture) sebelum langkah-langkah kongkret.
Ø  Gunung juga mewejangkan bahwa jika ingin sukses, janganlah setengah-setengah. Fokus dan tekunin betul bisnis atau pekerjaan kita serta tangkap peluang yang ada dengan sebaik mungkin. Jadilah yang terbaik dibidang yang kita geluti. Inilah yang dikatakan Hermawan Kartajaya sebagai “eat, sleep and with your business”.
Ø  Gunung sekaligus perlambang revolusi. Revolusi dalam tubuh organisasi haruslah diawali dari penentuan visi besar terlebih dahulu. Visi besar itu umumnya terbagi menjadi visi jangka pendek yang melibatkan Shock therapy; Visi jangka panjang menengah; dan visi jangka panjang.
LEMBAH
Mengubah Kelembahan Menjadi Kekuatan
Dibandingkan puncak gunung, lembah jelas kurang seksi. Lembah yang letaknya ada di bawah kerap menjadi ibarat bagi nasib mengenaskan, seperti terungkap dalam kalimat “terpuruk dalam lembah kenistaan atau lembah kesengsara”.
Ada dua kata kunci dalam penanggulangan: Penghematan tapi sekaligus juga tindakan penanggulangan. Ini Memberikan pelajaran bahwa apabila anda merasa sebagai pihak yang memiliki banyak kekurangan dan kelemahan dan merasa sedang berada di posisi bawah di dalam lembah, janganlah gundah. Justru kelemahan itulah yang dapat menjadi tambang potensional bagi anda untuk meraih kekuatan. Jadi, apakah Anda sudah siap mengantisipasi dan bangkit kembali dari situasi lembah?
Pelajaran Manajemen Dari lembah
Ø  Lembah mewakili titik-titik nadir di dalam kehidupan. Namun, hikmah penting dari lembah adalah bahwa kelemahan itu sebenarnya bisa di ubah menjadi kekuatan.
Ø  Mekanisme penanggulangan situasi ala lembah dapat di teladani. Dengan kata lain, melakukan penghematan tapi sekaligus juga tindakan penanggulangan.
Ø  Untuk mengubah kelemahan menjadi kekuatan, kondisi jatuhnya menjadi kondisi memantul, ada sejumlah langkah yang bisa di lakukan
1>    Menerima kondisi memantul
2>    Mengelola kegelisahan
3>    Mengelola faktor-faktor mental
4>    Mengelola uang
5>    Mengelola misi
6>    Mengelola moral atau semangat tim
GUA
Nilai Luhur Modal Usaha Makmur
Sering Melihat wayang, ya kadang tokoh-tokoh pada wayang itu sering bertapa di Gua untuk mendapatkan pusaka, dalam dunia nyata bisa bisa di ambil sisi manajemennya.
Gua adalah wadah untuk menggali nilai-nilai mulia demi mendapatkan kepenuhan hidup di dunia.
Jadi, Apabila gua merupakan perlambangan bagi nilai-nilai luhur bagi manusia, maka dalam bahasa manajemen inilah yang di sebut Leonard L. Berry dalam artikelnya untuk the Drucker’s Foundation “kedermawanan Strategis” sebagai values-driven leadership alias kepemimpinan yang di gerakan nilai-nilai. Menurut Berry, kepemimpinan semacam ini terdiri dari sejumlah nilai luhur-dalam bahasa kami, nilai luhur ala gua-sebagai berikut:
1>    Keunggulan: Menekankan standar tinggi di dalam organisasi.
2>    Inovasi: Mengubah status quo menjadi lebih baik.
3>    Kegembiraan: Mengangkat semangat manusiawi.
4>    Kerja sama tim: secara bersama-sama menyatukan sumberdaya kedalam satu tujuan bersama.
5>    Rasa hormat: Menanamkan martabat dan harga diri bagi pelanggan dan orang-orang yang melayani mereka.
6>    Integrasi: Bersaing berdasarkan kejujuran dan aturan main.
7>    Manfaat sosial: Menciptakan manfaat bagi masyarakat banyak di luar pemasaran barang dan jasa menciptakan lapangan kerja.
Pelajaran Manajemen dari Gua
Ø  Gua adalah symbol bagi nilai-nilai luhur dan etis yang ternyata bsia juga menjadi senjata ampuh dalam dunia berbisnis dan manajemen.
Ø  Dalam Teori kepemimpinan, nilai gua ini mewujud dalam bentuk values-driven leadership yang memang terdiri dari nilai-nilai sebagai berikut:
1>    Keunggulan
2>    Inovasi
3>    Kegembiraan
4>    Kerja sama tim
5>    Rasa Hormat
6>    Integrasi
7>    Manfaat sosial
HUTAN
Belantara Misteri Penggoda Hati
Hutan barangkali merupakan salah satu kreasi alam yang paling mengundang perasaan kontradiktif dalam diri mausia.Betapa tidak! Di satu sisi kita terpesona oleh keindahan alam yang ditawarkan hutan: keragaman makhluk hidup,udara segar,kesunyian,dan sebagainya.
Sisi indah dari hutan ini seakan menggetarkan.Kadang-kadang ,saking seramnya suasana yang melputi hutan ,tempat ini disamakan sebagai sarang para jin dan lelembut.Suara binatang sedikit saja sedikit dihutan,entah itu buung hantu adatu lebih-lebih serigala,sudah cukup membuat manusia keder dan kalang kabut.Karena itu kia mencintai hutan sekaligus juga menyayanginya.
Sinkat kata hutan adalah belantara yang dilindungi dengan kabut misteri.
Namun dalam bisnis dan manajemen,hutan menempati posisi sebagai metafora yang penuh keampuhan.Menurut Kevin Roberts dari Saatchi & Saatchi pada Lovemaks: The Future Beyind Brands,calon perusahaan atau merek unggul harus rela “masuk hutan” (go to the jungle),tang melambangkan detail dan bolume pasar yang besar.Maksudnya , kita harus mendalami pasar  sasaran secara lebih detail.
Makanya kata kunci dari teori “hutan” ini seabetulnya sederhana: memahami kebutuhan masyarakat,terutama masyarakat bawah,yaitu masyarakat massa yang disebut C.K Prahalad sebagai the bottom of pyramids.Sepengamatan Prahalad, the bottom of pyramids memang tidak ounya daya beli yang besar rakibat strata ekonominya yang lemah.Akan tetapi, karena jumlah merekan yang banyak, daya beli mereka pun secara signifikan akan terakumulasi untuk menguntungkan pemasar atai perusahaan.
Contoh dari kasus Sosro, yang terkenal merk The botol-nya. Keluarga sosro terkenal pelit berbicara kepada media, baik mengenai profil maupu soal strategi bisnis mereka. Namun, arura misterius ini suliut bagi kompetititor untuk mengetahui titik lemah dan kuatnya Sosro. Akibatnya Sosro selalu selangkah didepan dalam kancah persaingan dan terus Berjaya menjadi merek the kemasan botol teratas si negeri ini, tak tergoyahkan oleh raksasa global seperti Coca-Cola dan Frestea-nya.
Jelaslah sudah bahwa hutan menyimpan kekuatan yang patut diteladani.Akan tetapi, akan tetapi itu buan terletak pada hal gaib terkait dengan jin,siluman,dan hal lainnya. Sisi positif hutan adalah membuat orang penasaran serta selalu tercengang dengan kejutan yang di pertontonkannya, sebagaimana dilakuakan oleh Sosro.

POHON
Pemberi Keteduhan Penaung Kehidupan
“Tanamlah pohon.” Seruan ini santer terdengarbelakangan di tengah krisis lingkungan yang dahsyat dan intensifnya kampanye penyadaran akan pentingnya penghijauan. Menanam phon dianggap sebagai menyemai bibit-biit awal restorasi alias pemuliha keseimbangan dimuka bumi demi menyelamatkan umat manusia dari berbagai bahaya terkait iklim: banjir,pemanasan global,polusi,dan lain sebagainya, Maka dari itu, pohon adalah perlambang kehidupan dan juga keteduhan.
Hebatnya, pertanda ini juga tampaknya begitu selaras dengan keterpesonaan David Cooperrider dan Suresh Srivasta-penggagas konsep manajemen perubahan appreciative inquiry-terhadap pohon. Dalam artikel ilmiah mereka,”Picturing the Core as Tree of Life”, kedua penulis dengan detail menguraikan komponen pohon dan kaitannya dengan manajemen perubahan. Mereka mengatakan pohon terdiri dari berbagai komponen utama dan pedukung berupatanah, akar , batangpohon, ranting, kelopak, dan cahaya. Lebih jauh lagi, bagi mereka tanah melambangan kualitas-kualitas yang mendukung dan memupuk. Akar memiliki aset histori,nilai,dan keyakinan. Batang pohon mempresentasikan rancangan organisasi,struktur,dan proses. Cabang adalah kualitas kepemimpinan, hubungan dan aliansi. Daun adalah praktik terbaik . kelopak adalah kemungkinan baru dari inovasi,sementara cahaya adalah sumber energi, harapan dan keberanian.
Kita tentu hafal dengan pepatah “buah jatuh tak jauh dar pohonnya”. Artinya kira-kira anak adalah cerminan pola asuh keluarganya. Karena itu,menarik apabila kita kaji resep beberapa keluarga sukses di negeri ini.
Swa dalam edisi khususnya Mengungkapkan Perjalanan Sukses (22 Januari-4 Februari 2009) mengemukakan betapa Indonesia mempunyai begitu banyak keluarga sukses dalam,artian satu keluarga yang keturunannya rata-rata menuai sukses yang tak main-main di tingkatnya. Sebut saja keluarga Firmansyah dan keluarga Hasniar yang menurunkan trio maut Erry Firmansyah (mantan Dirut BEI/Bursa Efek Indonesia), Rinaldi Firmansyah (Dirut Utama PT.Telkom), dan Evi FIrmansyah (Wakil Dirut Utama Bang Tabungan Negara).
Adalagi keluarga Soemarno,yang anak-anaknya adalah Ari H.Soemarno (mantan Dirut Pertamina), Rini SOemarno (mantan Menteri Perdagangan dan mantan Dirut Astra Internasional), dan Ongkie Soemarno (pengusaha sukses). Dan masih banyak lagi keluarga-keluarga sukses lainnya si negeri ini.
Bagaimana bias satu keluarga mampu mengantar semua keluarganya menuju gerbang kesuksesan? Jawabannya ternyata tak jauh-jau dari karakter pohon yang sudah diuraikan panjang lebar diatas. Sebagaimana disibak Swa,resep-resep umum keberhasilan para dinasti sukses itu membentuk daftar yang cukup panjang berupa memberikan kesempatan kepada anak untuk berkembang sesuai dengan minat dan , menciptakan anak merasa riang dan nyaman dalam pengembangan diri, menanamkan nilai-nilai positif dasar (kerja keras,disipllin,sadar waktu,dan lain sebagainya), menumbuhkan keterampilan social dan berorganisasi, mendorong semangat berkompetisi dan berprestasi, membiasakan anak berjuang sebelum meminta sesuatu, dan melatih anak dengan member mereka lebih banyak tanggung jawab.
Betapa selaras pakem ini selaras dengan watak pohon. Menciptakan lingkungan kondusif adalah ibarat tanah. Penanaman nilai dasar sama dengan akar. Pemupukan keterampilan sosial dan berorganisasi adalah seperti batang pohon dan cabangnya. Semangat berpartisipasi setali tiga uang dengan daun dan kelopak, yang melambangkan prestasi terbaik dan kemungkinan inovasi, sementara melatih anak dengan pemberian lebih banyak tanggung jawab bagaikan memberikan cahaya bagi anak untuk menyongsong masa depan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar